Kultus Mithras

psikologi agama rahasia para tentara di bawah tanah

Kultus Mithras
I

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa manusia suka sekali dengan sesuatu yang berlabel "rahasia"? Entah itu grup obrolan tersembunyi, klub eksklusif, atau komunitas tertutup yang aturannya hanya diketahui orang dalam. Ketertarikan kita pada misteri sebenarnya sudah tertanam di sirkuit otak kita sejak dulu kala. Untuk membuktikannya, mari kita mundur sekitar dua ribu tahun lalu ke era Kekaisaran Romawi. Lupakan sejenak gladiator, kaisar gila, atau megahnya koloseum. Kali ini, saya mengajak teman-teman masuk ke ruang bawah tanah yang gelap, pengap, berbau dupa, dan meneteskan darah. Selamat datang di dunia Kultus Mithras.

II

Agama misteri ini adalah fenomena yang sangat unik dalam sejarah. Mereka tidak punya kitab suci. Tidak ada satu pun teks doktrin yang sengaja ditinggalkan agar bisa dibaca orang luar. Aturan main mereka cuma satu: apa yang terjadi di bawah tanah, tetap di bawah tanah. Tempat ibadah mereka disebut mithraeum. Bentuknya sengaja dibuat menyerupai gua sempit yang memanjang, tanpa jendela, gelap, dan terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Menariknya, penganut agama ini bukanlah kaum elit politik atau filsuf bergaun putih. Mayoritas anggota mereka adalah pria-pria keras: prajurit, perwira militer, penjaga perbatasan, hingga birokrat kekaisaran. Coba kita renungkan sejenak. Para pria tangguh yang tugasnya menaklukkan dunia untuk Roma, justru diam-diam menyelinap di malam hari. Mereka berkumpul di ruang gelap untuk memuja sosok dewa pelindung dari Timur. Apa yang sebenarnya mereka cari di sana?

III

Jika kita beruntung bisa menyusup ke dalam sebuah mithraeum, pandangan kita akan langsung tertuju pada satu mahakarya pahatan di ujung ruangan. Sebuah adegan dramatis di mana seorang pemuda bertopi unik sedang menyembelih seekor banteng raksasa. Adegan ini secara ilmiah disebut tauroctony. Di sekitarnya, selalu ada ukiran anjing, ular, dan kalajengking yang ikut mengerumuni darah banteng tersebut. Penuh teka-teki, bukan? Misterinya tidak berhenti sampai di situ. Untuk bisa diakui secara penuh, seorang anggota harus merangkak naik melewati tujuh tingkatan inisiasi. Mulai dari level "Burung Gagak" hingga level tertinggi yang disebut "Sang Ayah". Setiap transisi level menuntut ujian fisik dan mental. Kadang mereka diikat, kadang ditutup matanya, kadang dipaksa menahan rasa sakit dan ketakutan ekstrem di dalam gelap. Pertanyaannya, kenapa para tentara ini mau repot-repot disiksa secara sukarela? Mengapa mereka tidak memilih menyembah dewa-dewa Olimpus seperti Jupiter atau Mars, yang kuilnya megah dan terang benderang di pusat kota? Rahasia apa yang membuat kultus aneh ini menyebar begitu cepat bagai virus di kamp-kamp militer Romawi?

IV

Di sinilah sains, sejarah, dan psikologi memberikan jawaban yang menurut saya sangat luar biasa. Teman-teman, ini bukan sekadar urusan teologi kuno. Ini murni soal psikologi evolusioner dan mekanisme pertahanan mental manusia. Coba tempatkan diri kita sebagai tentara Romawi. Kekerasan, ancaman pemberontakan, dan kematian adalah menu sarapan sehari-hari. Mereka hidup secara permanen dalam mode fight or flight response. Di dunia militer Romawi, hierarki sangat brutal. Nyawa seorang prajurit rendahan bisa melayang kapan saja hanya karena perintah jenderal yang sedang bad mood. Secara psikologis, manusia yang terus-menerus hidup di bawah tekanan ekstrem akan mencari kompensasi. Mereka butuh rasa aman yang absolut. Di atas tanah, mereka hanyalah pion. Namun di bawah tanah, di dalam mithraeum, mereka menemukan keamanan psikologis (psychological safety). Ritual inisiasi yang menyakitkan dan menakutkan itu ternyata punya fungsi biologis. Saat sekelompok orang menghadapi penderitaan buatan bersama-sama, otak akan membanjiri tubuh dengan endorfin dan oksitosin. Ini melahirkan ikatan emosional yang tak terpatahkan. Dalam psikologi modern, polanya mirip dengan fenomena trauma bonding. Di dalam gua yang remang-remang itu, seorang jenderal dan prajurit biasa bisa berbagi roti dan minum anggur dari cawan yang sama. Mereka menyebut satu sama lain sebagai syndexioi, yang artinya "mereka yang saling berpegangan tangan". Jadi, Kultus Mithras pada dasarnya adalah kelompok dukungan psikologis (support group) bawah tanah yang sangat eksklusif, diciptakan oleh dan untuk para pria yang berhadapan dengan trauma perang setiap hari.

V

Kultus Mithras pada akhirnya perlahan menghilang tertelan sejarah ketika Kekaisaran Romawi mulai mengadopsi agama baru yang lebih terbuka. Gua-gua rahasia mereka ditimbun tanah, patung banteng mereka dihancurkan atau dilupakan. Namun, dorongan psikologis dari para penganut Mithras ini sebenarnya tidak pernah benar-benar lenyap dari DNA kita. Jika kita merefleksikan kembali kisah ini, bukankah kita semua di era modern ini masih mencari mithraeum kita masing-masing? Di tengah kerasnya tekanan hidup, pekerjaan, atau ekspektasi sosial, kita selalu mencari "ruang bawah tanah" kita sendiri. Kita mendambakan lingkaran kecil tempat rahasia kita aman. Kita mencari ruang di mana kita tidak dinilai dari jabatan, isi dompet, atau status sosial di "dunia atas". Sebuah tempat di mana kita bisa melepas zirah pertahanan kita dan berbagi kerentanan tanpa takut dihakimi. Kisah para prajurit kuno ini mengajarkan kita satu kebenaran ilmiah yang sangat puitis: sekeras apa pun dunia memaksa kita menjadi mesin yang tangguh, otak manusia pada akhirnya selalu mendambakan satu hal, yaitu rasa aman dan koneksi sejati dengan sesama.